Compare Listings

Hutang-Piutang Kok Jadi Jadi Lahan Bisnis?

Hutang-Piutang Kok Jadi Jadi Lahan Bisnis?

“Praktek pengambilan bunga saat ini lebih parah dibanding pada zaman jahiliyah dulu. Berikut ini adab atau etika utang-piutang menurut Islam.

 

Oleh Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA
“Ustad, para rentenir itu ketika dinasihati malah berargumen bahwa wong tujuan kami baik, membantu orang-orang yang sedang terjepit, kok. Masak ndak boleh? Bagaimana menurut ustad?” tanya seorang anggota jamaah pengajian saya.

Sebelumnya saya menjelaskan perilaku tercela para lintah darat yang menjadikan utang-piutang sebagai bisnis. Terhadap pertanyaan itu, saya menjawab dengan bertanya, “Nulung (membantu) atau menthung(memukul)? Berniat murni membantu orang yang kesusahan, atau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan? Kalau benar-benar untuk membantu, mengapa mesti disyaratkan di awal bahwa kelak peminjam harus mengembalikan utang beserta bunganya?”

Islam membolehkan utang-piutang jika sesuai etika bukanlah tanpa tujuan. Banyak hikmah mulia yang bisa dipetik oleh pemberi pinjaman maupun peminjam. Di antaranya menumbuhkan ruh saling membantu dan kepedulian sosial terhadap sesama.[1] Karena itu, pemberian piutang sebenarnya harus bermotif sosial (ihsan) dan ibadah untuk mengharap pahala dari Allah semata. Bukan bermotif bisnis dan mengeruk untung duniawi (baca: bunga) karena menjadikan piutang sebagai bisnis merupakan perilaku jahiliyah yang diperangi Islam.

Alkisah, orang-orang jahiliyah dahulu, ketika memberi utang, menentukan jatuh tempo pengembalian. Apabila peminjam tidak bisa melunasi utang pada waktu yang telah ditentukan, mereka mengenakan bunga sebagai kompensasi tambahan waktu pembayaran.[2] Bunga itu akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu sehingga peminjam sangat sengsara karena terbebani utang yang berlipat ganda.[3] Lalu datanglah Islam yang rahmatan lil ‘âlamîn dan melarang praktek itu, serta mengkategorikannya sebagai riba. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kalian mendapat keberuntungan.”(QS. Ali Imran: 130)

Praktek utang berbunga sekarang lebih parah dibanding pada zaman jahiliyah. Pada riba jahiliyah, bunga baru dikenakan ketika peminjam tidak bisa melunasi utang pada waktu yang telah ditentukan, sebagai kompensasi pengunduran waktu pembayaran. Sedangkan perbankan dan rentenir menetapkan bunga pada saat kesepakatan dibuat, atau sejak peminjam menerima utang. Praktek riba oleh perbankan dan para lintah darat saat ini lebih jahiliyah dibandingkan praktek riba di era jahiliyah.

[1]   Baca: Ahkâm ad-Dain – Dirâsah Hadîtsiyyah Fiqhiyyah karya Sulaiman al-Qushayyir (hal. 21-22).
[2]  Lihat: Tafsîr ath-Thabary (VI/49).
[3]  Baca: Ar-Ribâ, Khatharuhu wa Sabîl al-Khalâsh minhu, karya Dr. Hamd al-Hammad (hal. 10).

img

urbansalam

Related posts

Hukum Bayar 100 rb, All You Can Eat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar. karena transaksi ini pemicu...

Lanjutkan membaca
Oleh urbansalam

Rumah Dibeli untuk Ditempati dan Jika Untung Dijual apakah ada Zakatnya?

Pertama, Diantara yang perlu kita bedakan, niat menjual barang dengan niat memperdagangkan barang...

Lanjutkan membaca
Oleh urbansalam

Tabdzir (menghambur-hamburkan harta)

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat al-Isra ayat 26: وَآتِ ذَا...

Lanjutkan membaca
Oleh urbansalam

Bergabunglah dengan Diskusi

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.